12/05/2012

Tafsir QS. Ali Imran Ayat 25


Pendahuluan
           
Hari akhir adalah momentum bagi seluruh manusia atau hari dimana semua manusia dikumpulkan menjadi satu di akhirat. Segalanya akan di hancurkan, harta yang kita miliki, jabatan  dan segala bentuk yang berorientasi dunia semua akan hancur, dalam hal ini tentu hampir semua manusia mempercayai akan hari itu yakni hari dimana manusia akan di hisab atas amalan-amalan yang mereka kerjakan di dunia.
Kesadaran dalam menjalankan perintah sang khaliq merupakan hal yang
harus diperhatikan bagi setiap muslim. Namun, sangat disayangkan jika kita melihat realitas kehidupan umat muslim sekarang,  mereka terperdaya oleh megahnya dunia
sehingga ia lupa terhadap kewajibannya kepada sang khaliq. korupsi, suap dan kebohongan yang telah dilakukan adalah implikasi dari kelalaian atas perintah Allah SWT. selaras dengan  orang-orang yahudi dan nashrani yang  telah melanggar dan mengingkari terhadap perintah yang telah Allah intruksikan yaitu  menetapkan hukum yang terdapat dalam injil dan taurat. Dari kejadian tersebut dapat kita selaraskan dengan apa yang telah terjadi dalam realita kehidupan kita ialah menyepelekan terhadap firmannya baik itu disadari atau tidak.
Perlu diketahui bahwa manusia diciptakan di dunia ia mempunyai suatu opsi untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena Allah SWT menciptakan neraka dan surga seperti yang telah Allah firmankan di dalam ayatnya yang berbunyi:
`yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§sŒ #\øyz ¼çnttƒ ÇÐÈ   `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ  
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Ayat di atas telahlah jelas bahwa pada hari kiamat nanti semua manusia akan di hisab tergantung dari amal perbuatan yang telah mereka lakukan untuk dimasukan surga atau neraka. Itu semua merupakan sistem yang telah Allah ciptakan untuk digunakan manusia sebaik-baiknya.
Berikut hal-hal yang akan dipaparkan secara lebih rinci terkait dengan Ayat-ayat tentang hari akhir beserta penafsirannya.

Pembahasan
        Hari Akhir disebut juga dengan Hari Kiamat, artinya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan ini semua manusia yang telah meninggal dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan semua amal perbuatannya selama hidup didunia. Dan kita sebagai umat muslim wajib meyakini adanya hari kiamat tersebut. Dengan meyakini adanya hari kiamat, kita akan berusaha mencari tahu tentang gambaran hari kiamat, bagaimana terjadinya kiamat, tanda-tanda datangnya hari kiamat serta kehidupan kita kelak di akhirat. Jika telah mengetahui ketiga hal tersebut, maka secara otomatis kita akan termotivasi untuk meningkatkan iman kepada Allah. Mengapa ? karena kita akan sadar dengan apa yang telah kita lakukan selama ini ! dosa ataukah pahala ?  dan kita akan merasa takut akan ganjaran yang akan kita terima kelak di akhirat jika kita melakukan banyak dosa. Dengan adanya perasaan itu, umat muslim tersebut akan berusaha meningkatkan imannya kepada Allah SWT.
1.      Ali Imran ayat 25
فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
”bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tidak diragukan terjadinya, kepada setiap jiwa (diberi balasan yang sempurna) sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”
 
Munasabah
Dalam ayat-ayat yang sebelumnya telah diterangkan kejelekan tingkah laku orang yahudi yaitu mengabaikan dakwah Nabi, membunuh para Nabi dan orang-orang bijak yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu adalah sebagai keterangan Allah bagi para rosul-Nya bahwa berpalingnya mereka dari dakwah nabi bukanlah suatu hal yang baru atau mengherankan. Lalu pada ayat ini, Allah memperingatkan kepada nabi Muhammad saw, tentang kejanggalan sikap  orang Yahudi dalam hidup beragama, yaitu mereka menolak untuk mengambil hukum dari kitab mereka sendiri. Bila mereka diajak untuk kembali kepada kitab suci mereka, mereka pun selalu menolak.
Sebab Nuzul
Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, dari Abdullah bin Umar, bahwa beberapa orang  Yahudi datang menghadap Rasulullah saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berbuat zina. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Bagaimana tindakanmu terhadap orang yang berbuat zina?” Mereka menjawab, “Kami lumur mereka dengan abu lalu kami pukuli”. Rasulullah saw berkata, “Tidaklah kamu temukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab, “Tidak… kami tidak menemukan hukum itu di dalamnya”. Abdullah bin Salam berkata kepada mereka, “Kamu telah berdosa, Bawalah Taurat, Bacalah jika kamu sekalian benar”. Lalu salah seorang yang ahli dalam Taurat diantara mereka meletakkan telapak tangannya diatas ayat rajam. Mulailah dia membaca selain dari yang tertutup oleh telapak tangannya. Kemudian Abdullah bin Salam mengangkat telapak tangan orang yang menutupi ayat rajam, lalu dia berkata kepada orang-orang yahudi itu , “ini apa?” Tatkala orang Yahudi itu melihatnya, mereka berkata, “itu adalah ayat rajam”. Maka Rasullullah memerintahkan untuk merajam mereka berdua sesuai dengan perintah Taurat. Lalu mereka dirajam dekat kuburan disamping masjid. “Akan tetapi orang Yahudi marah terhadap hukuman ini, maka Allah mencela sikap mereka dengan ayat ini.”
Tafsir
Ayat ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan bagaimanakah keadaan orang Yahudi  bilamana hari Kiamat yang tidak diragukan lagi itu telah datang.
Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan huruhara yang terjadi dihari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh pada jurang penderitaan, tak akan ada jalan untuk menyelamatkan diri. Sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari azab itu adalah angan-angan kosong.
Pada hari yang dahsyat itu orang akan melihat dengan jelas apa yang telah dikerjakannya, baik atau buruk akan dihadapkan pada mereka. Kemudian segala amal perbuatan akan dibalas dengan kesengsaraan jika amal itu buruk. Tidak ada hak istimewa yang dapat diberikan kepada pemeluk suatu agama tertentu dan golongan tertentu. Tidak pula suatu bangsa mendapat keistemewaan atas bangsa-bangsa lainnya sekalipun mereka menanamkan dirinya dengan sya’bullah al-mukhtar (rakyat Allah yang terpilih) atau anak Allah. Pembalasan pada hari kiamat itu sesuai dengan baik buruknya iktikad yang terkandung dalam hati dan sesuai pula dengan baik buruknya amal perbuatan yang telah dilakukan.
Pada hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna. Tidak akan dikurangi sedikitpun balasan terhadap suatu perbuatan dan tidak pula akan ditambah. Yang menjadi pertimbangan pada hari itu ialah keimanan seseorang dan pengaruh iman itu terhadap amal perbuatannya sewaktu didunia. Kalau dia tidak beriman, maka ia akan masuk kedalam neraka, karena amal-amalnya buruk. Jika imannya tidak sampai rusak, karena diimbangi dengan amal saleh atau seimbang antara yang baik dengan yang buruk, maka dia mendapat balasan sesuai dengan derajad dan kadarnya masing-masing.
Dalam ayat ke 25 ali imron juga masih terkait terhadap ayat-ayat yang sebelumnya yaitu ayat ke 23 dan 24, hal telah tercacat dalam buku “Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir” bahwa firman Allah dalam 3 ayat menjelaskan bahwa mengingkari anggapan orang- orang Yahudi dan Nashrani yang berpegang pada kitab-kitab mereka Taurat dan Injil dan diserukan agar mereka menetapkan hukum-hukum yang terdapat di dalam kedua kitab itu untuk menaati perintah Allah dengan mempercayai Muhammad dan mengikuti jejaknya, mereka selalu berpaling dan membelakangi perintah Allah itu. Hal mana merupakan puncak pelanggaran dan sikap keras kepala yang sangat tercela. Dan sesungguhnya apa yang memberanikan mereka melanggar dan membelakangi kebenaran ialah pengakuan yang mereka ada-adakan bahwa mereka akan mengalami siksa neraka hanya selama tujuh hari untuk tiap seribu tahun yang menurut perhitungan dunia satu hari. (lihat lebih jauh tentang hal ini di dalam tafsir Al-Baqarah ).
Pengakuan yang berupa penipuan diri sendiri bahwa mereka tidak akan disentuh oleh api neraka hanya beberapa hari saja itulah yang menyebabkan mereka berpegangan teguh kepada agama mereka yang bathil itu, pada hal Allah menurunkan keterangan atau tanda yang membenarkan anggapan mereka itu. Karena Allah mengancam mereka dengan membayangkan bagaimana keadaan mereka kelak di hari qiamat, bilamana mereka dikumpulkan pada hari yang tidak diragukan kedatangannya itu, dimana tiap-tiap diri orang disempurnakan balasannya atas segala usahanya. Mereka itu yang berdusta terhadap Allah, mendustakan para rasul-Nya, membunuh nabi-nabi dan para ulama yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar akan dimintai pertanggung jawabnya dan akan diadili serta diganjar setimpal dengan perbuatannya pada hari berkumpul (hari qiamat) itu.[1]  
Pertanyaan ini untuk menunjukan keheranan dan kepopuleran sikap kontradiktif yang aneh ini. Sikap orang-orang yang telah di beri alkitab, yaitu Taurat bagi orang-orang Yahudi dan Injil bagi orang-orang Nashrani. Dan masing-masing disebut bagian dari kitab, karena kitab Allah adalah semua kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, yang semuanya menetapkan ke-esaan uluhiyah dan qowamah. Maka semua kitab itu pada hakikatnya adalah satu. Kaum Yahudi di beri bagian darinya dan kaum Nashrani juga di beri bagian darinya. Sedangkan kaum muslimin di beri kitab itu seluruhnya dalam pengertian bahwa Al-Qur’an itu menghimpun semua pokok agama dan membenarkan kitab yang ada sebelumnya.
Selain itu, pertanyaan ini juga menunjukan keheranan mengenai mereka “yang telah diberi bagian yaitu alkitab (taurat)” kemudian diseru pada kitab itu untuk memutuskan apa yang terjadi diantara mereka dan untuk menjadi pedoman dalam persoalan kehidupan dan penghidupan mereka, tetapi mereka tidak memenuhi seruan ini. Malah sebagian dari mereka menolak dan berpaling dari berhukum kepada kitab allah dan syariatnya. Inilah suatu sikap yang kontradiktif dengan keimanan terhadap kitab allah yang manapun, dan tidak sejalan dengan pengakuan mereka sebagai ahli kitab, “tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian Yaitu Al kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).”
Demikianlah Allah menyatakan keheranannya terhadap kaum ahli kitab ketika sebagian dari mereka menolak  untuk berhukum kepada kitab Allah dalam persoalan akidah dan kehidupan. Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya muslim, tetapi kemudian mereka menyimpang dari syariat Allah dalam semua urusan kehidupan mereka? Kemudian mereka berbuat dzalim, tetapi tetap saja mengaku muslim?
Sebenarnya, ini juga merupakan perumpamaan yang dibuat Allah bagi kaum muslimin,  supaya mereka mengetahui hakikat din dan tabiat Islam, juga supaya mereka berhati-hati agar jangan sampai menjadi sasaran keheranan dan diumumkan  sifatnya oleh Allah.
Apabila demikian pengingkaran sikap kaum Ahli Kitab yang tidak mendakwakan diri muslim, ketika sebagian dari mereka menolak berhukum kepada kitab Allah, maka bagaimana lagi bentuk pengingkaran kalau kaum muslimin yang melakukan penolakan dan penyimpangan itu?
Sungguh, ini merupakan keheranan yang tidak ada habis-habisnya, bencana yang tertanggungkan, dan kebencian yang berujung pada kesengsaraan dan keterusiran dari rahmat Allah. Kita berlindung kepad Allah dari yang demikian itu !
Kemudian disingkapkanlah hal-hal yang menyebabkan mereka bersikap ingkar dan kontroversial itu, “adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan”.
Inilah yang menjadi sebab berpalingnya mereka dari berhukum kepada Allah dan kontradiksinya pengakuan mereka sebagai orang beriman dan ahli kitab. Yaitu tidak adanya kepercayaan kepada diberlakukannya hisab pada hari kiamat dan di tegakannya keadilan Ilahi yang tidak pilih kasih dan tidak miring kepada pihak tertentu. Hal ini tampak dengan perkataan mereka, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.”
Kalau tidak, maka tanyakanlah kepad mereka,” mengapakah mereka tidak akan disentuh oleh api  neraka melainkan beberapa hari yang dapat dihitung saja ? mengapakah mereka berpaling dari hakikat din yaitu berhukum kepada kitab Allah dalam segala urusan ? mengapakah demikian sikap mereka, kalau mereka benar-benar percaya kepada keadilan Allah ? bahkan, kalau mereka merasa akan bertemu dengan Allah ? “
sesungguhnya, mereka tidak berkata melainkan yang mengada-ada, kemudian mereka terperdaya oleh tindakan yang mengada-adanya itu, “diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan..”
Sudah tentu, tidak akan berkumpul dalam hati seseorang suatu kepercayaan yang sunggu-sungguh akan bertemu Allah dan perasaan terhadap hakikat pertemuan ini, dengan lupa menggambarkan balasan dan keadilannya ini. Sudah tentu, tidak akan berkumpul dalam hati seseorang suatu perasaan takut kepada akhirat dan malu kepada Allah, dengan sikap menolak berhukum kepada kitab Allah dan menjadikannya pedoman dalam segala urusan kehidupannya.
Perumpamaan kaum ahl kitab yang demikian itu seperti orang-orang sekarang yang mengaku muslim, kemudian diseru untuk berhukum kepada kitab allah, lalu mereka berpaling dan menolak. Dan diantara mereka ada yang membual dan tidak tahu malu mengatakan bahwa kehidupan manusia itu urusan dunia, bukan agama , dan tidak perlu memberlakukan agama dalam kehidupan manusia dalam bidang pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan sosial, bahkan keluarga. Kemudian setelah itu mereka masih mengaku sebagai orang muslim! Lalu sebagian mereka dengan keterperdayaan dan kedunguannya mengira bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka melainkan sekadar untuk mebersihkan mereka dari kemaksiatan, dan setelah itu mereka akan digiring ke surga.
Bukankah mereka itu muslim? Sesungguhnya, anggapan itu sama dengan anggapan ahli kitab itu, dan sama pula keterperdayaan mereka oleh tindakan mengada-ada yang sama sekali tidak ada pijakannya dalam agama. Sesungguhnya, sebagai ahli kitab itu dan sebagian orang muslim ini sama sama terlepas dari pokok dan hakikat agama yang diridloi oleh Allah, yaitu Islam, dalam pengertian tunduk menyerah, taat dan ittiba’ serta menerima ajaran Allah dalam semua urusan kehidupannya,
“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri Balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).”
Bagaimana ? sesungguhnya, ini adalah ancaman menakutkan yang merinding hati orang mu’min menghadapinya kalau ia merasakan kepastian terjadinya hari itu, kepastian bertemu Allah, dan kepastian keadilan Allah. Gambaran dan perasaannya tidak lebur bersama angan-angan yang bathil dan kebohongan yang menipu.
Ancaman ini berlaku bagi semua manusia, baik musyrik, atheis, ahli kitab, maupun yang mengaku beragama islam. Semuanya sama dalam arti tidak merealisasikan islam di dalam kehidupan mereka.
“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya? “ dan,keadilan ilahi berlaku secara proporsional? “dan, dan disempurnakan pada tiap-tiap diri pada yang di usahakannya”  dengan tanpa ada kedzaliman dan pilih kasih ? “ sedang mereka tidak dianiaya” sebagaimana tidak ada tindakan pilih kasih terhadap mereka dalam hisab Allah?
Pertanyaan ini dilontarkan dan dibiarkan tak berjawab. Maka, berguncang dan gemetar lah hati ketika membayangkan jawabannya ! [2]
Kalau keadaan mereka dalam kehidupan dunia ini demikian adanya, yakni masih dapat berbohong dan mempercayai kebohongan mereka sendiri karena manusia didunia memang di beri pilihan, maka bagaimanakah nanti apabila mereka kami kumpulkan di hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang adanya ? disana tidak ada pilihan, tidak ada kebohongan, dan tidak ada tipu daya. Ketika itu segala rahasia akan terbongkar.ketika itu segala tipu daya akan nyata,dan akan jelas bahwa kepercayaan mereka tidak benar, dan harapan mereka adalah angan-angan kosong. Ketika itu mereka akan menemukan sangsi pelanggaran dan kebohongan mereka. Karena pada hari itulah disempurnakan kepada tiap-tiap jiwa balasan apa yang di usahakannya , jika baik maka ia memperoleh ganjaran dan jika buruk maka buruk pula balasannya. Namun demikian, mereka tidak  dianiaya,yakni dirugikan oleh siapapun. Hari itu akan disempurnakan, bisa jadi sebulumnya ketika di alam barzah sebelum mereka di bangkitkan dari kubur,atau ketika di dunia bisa jadi mereka telah mendapat panjar  tetapi belum sempurna, sehingga nanti di hari kemudian baru akan disempurnakan.[3]
Setengah orang suka memakai pikirannya dan dapat diajak berunding. Mereka dapat mengerti kalau dikatakan bahwa hakikat agama ialah menyerah diri kepada Allah, yang kelaknya akan berarti tunduk kepada perintah Allah, mengerjakan yang disuruh dan menghentikan yang dilarang. Tetapi setengah orang lagi, demikian tebal hawa-nafsunya, sehingga ajakan yang dilakukan secara lemah-lembut tidak berfaedah, malahan bertambah diajak mereka bertambah benci. Untuk golongan yang begini  berkatalah lanjutan ayat :
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada perintah-perintah Allah” tidak mau menerima kebenaran, ditutupnya telinga dan hatinya “ dan mereka membunuh nabi-nabi dengan tidak benar”, sebagai yang kerap kali yang dilakukan oleh orang yahudi kepada nabi mereka sendiri. Berpuluh nabi yang tidak mereka senangi telah mereka bunuh. Dan telah mereka bunuh pula Nabi Zakariya dan putranya Nabi Yahya, dan coba pula mereka hendak menarik tangan pihak penguasa supaya Nabi ‘Isa Almasihpun dibunuh, tetapi dipelihara oleh Allah. Meskipun orang yahudi yang hidup dizaman Rasulullah hanya keturunan yang kesekian dari nenek-moyang mereka, yang membunuh Nabi-Nabi itu, namun sifat nafsu jahat itu masih ada pada mereka. Mereka telah kedapatan dua tiga kali membuat komplot hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. oleh karena mereka tidak mempunyai pertahanan buat menolak seruan Nabi, sedang nafsu mereka penuh kebencian, tidak lain bagi mereka hanyalah membunuh, itu sebabnya maka dikatakan membunuh dengan tidak benar. Artinya Nabi-Nabi itu tidak bersalah sehingga membunuh itu tidak patut. Mereka menyangka dengan cara demikian akan tercapailah penyelesaian, sebab tela tersingkir orang-orang yang mereka anggap hendak mengubah-ubah pusaka kepercayaan mereka.” Dan membunuh orang-orang yang menyuruhkan keadilan dari manusia.” Yaitu ahli-ahli fikir yang berani menyatakan kebenaran,menyebut yang terasa, menunjukan jalan yang adil, membawa perubahan-perubahan berfikir kepada masyarakat, meskipun mereka bukan Nabi. Sebagai Socrates dalam dunia filsafat, yang juga mati dihukum bunuh oleh penguasa Yunani dengan tuduhan merusak pikiran anak muda-muda dan meremehkan agama pusaka nenek-moyang, begitu pula lah yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang mendirikan keadilan atau dizaman-zaman yang selanjutnya, orang-orang yang tidak senang kebiasaan yang buruk diganggu oleh orang yang membawa perubahan-perubahan pikiran kepada kemajuan, lalu mereka main bunuh.” Maka beri ancamanlah mereka dengan siksa yang pedih.”(ujung ayat 21).
Ancaman siksa yang pedih pada orang-orang yang berjiwa demikian rendah, yang karena tidak sanggup menolak seruan yang benar dengan kebenaran pula, lalu dengan secara hina membenarkan prndirian yang salah, sampai membunuh segala, dijelaskan pada ayat yang selanjutnya :
itulah orang-orang yang telah percuma amal-amal mereka” (pangkal ayat 22), sehingga arang habis besi binasa, sebab amal yang berhasil adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian. “Didunia dan diakhirat.” Dalam dunia segala amal mereka percuma, gagal dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau didunia sudah tidak ada, niscaya diakhiratpun kosong, malahan ‘adzab siksalah yang akan mereka derita. “Dan tidak ad bagi mereka orang-orang yang akan menolong.” (ujung ayat 22).
Siapa orang yang akan dapat menolong ? kalau siksaan Tuhan telah datang ? siapa juga yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah diruntuhkan sendiri oleh Tuhan ? siapa yang akan dapat membela, orang yang jatuh lantaran salahnya sendiri ?
Seorang sopir mobil mengantuk. Disuatu tikungan ada tertulis : “awas kalau hujan licin”. Tetapi tidak diperdulikannya tulisan itu, mobil ijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba tempat yang menurun dia selip, sehingga jatuh londong-pondong masuk jurang yang dalam. Siapa yang akan dapat menolong pada waktu itu, sehingga dia tidak jadi jatuh?
Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang telah di beri sebahagian dari kitab.” (pangkal ayat 23). Maksud diberi “sebahagian dari kitab”, ialah bahwa mereka telah memahamkan “sebahagian” dai isi kitab, kadang-kadang mereka hafal diluar kepala sebagian besar ayatnya, atau keseluruhannya, tetapi “sebahagian” itu sajalah yang dia dapat dari kitab itu. Adapun maksud yang lebih terkandung dalam kitab itu mereka tidak mengerti. Yang dimaksud disini ialah orang-orang Yahudi, yang mengetahui sebahagian dari kitab Taurat. “(seketika) di ajak mereka kepada kitab Allah supaya memutuskan diantara mereka ? kemudian berpaling sebahagian dari mereka, padahal mereka membelakang ?” (ujung ayat 23).
Menurut riwayat dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. masuk kerumah tempat Yahudi mempelajari agama mereka, mengajak mereka kepada jalan Allah. Maka bertanyalah kepada beliau dua orang pemuka Yahudi yang ada disana diwaktu itu, yaitu An-Nu’man bin ‘Amr dan Al-Haris bin Zaid: “ Engakau datang dengan membawa agama apa, ya Muhammad ? “ Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “ Aku datang dengan agam Ibrahim dan peraturannya.” Maka kedua penanya itu berkata pula: “ Tetapi Ibrahim adalah Yahudi.” Dengan tegas Nabi s.a.w. menyambut kata mereka itu : “ Mari kita ambil Taurat, dia kita jadikan alat pemutus diantara kita dalam soal ini. Apa betulkah Yahudi agama Ibrahim atau Islam!” tetapi kedua orang itu tidak mau. Demikian salah satu riwayat tentang sebab-sebab turunnya ayat ini.
Mungkin mereka menyangka, sebab Nabi kita s.a.w memang tidak tahu menulis dan membaca, akan dapat saja beliau ditipu dan dikelabuhi dengan perkataan demikian; mengatakan Nabi Ibrahim orang Yahudi. Padahal nama Yahudi diambil dari nama Yahuda, anak dari cucu beliau Ya’qub. Dan Nabi Ibrahim telah meninggal seketika Yahuda lahir kedunia. Adakan mungkin diakal sinenek menganut agama yang memakai nama anak dari cucunya ? alias cucunya? Tantangan Nabi Muhammad sangat jitu sekali. Beliau suruh bawa Taurat itu dan mari baca bersama-sama, difasal dan di ayat berapa ada tersebut bahwa Nabi Ibrahim orang Yahudi ? maka sipenanya yang berdua itu berpaling, bahkan membelakang, karena takut akan perhadapkan dengan kebenaran.
Demikian pula kalau misalkan terjadi pertukaran fikiran diantara seorang muballigh Islam dan seorang missionaris Katholik atau Zending Protestan, yang sungguh-sungguh memprogandakan bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan pula disamping Allah, atau dia sendiri adalah Allah katanya hal itu dikatakan oleh Nabi ‘Isa sendiri didalam injil. Maka kalau diminta keterangan injil dimana dan fasal yang keberapa, ditanya yang mana ada tersebut bahwa Nabi ‘Isa sendiri mengakui dirinya sebagai Allah ? Atau Tuhan yang Maha Kuasa pula atas seluruh alam ini menyerupai Allah ? sebab ini mengenai kepercayaan, niscaya ada wahyu yang jelas dari Nabi’Isa sendiri ? mereka tentu tidak akan dapat mengemukakannya, kecuali dengan mengemukakan penafsiran yang telah diputuskan oleh pendeta, menurut yang diajarkan oleh Paulus, seorang yahudi yang membenci pengikut Nabi ‘Isa, lalu setelah Nabi’Isa meninggal, dia memaklumkan dirinya telah jadi kristen maka ia mengeluarkan pelajaran yang jauh berbeda dari apa yang diajarkan Nabi ‘Isa sendiri.
yang demikianlah ialah karena mereka berkata : “ sekali-kali kami tidak akan disentuh oleh api neraka, melainkan beberapa hari saja.” (pangkal ayat 24). Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya tadi, dua orang pemuka Yahudi berani mengatakan Nabi Ibrahim adalah orang-orang Yahudi, tetapi seketika diajak mengambil keputusan dan mencari keterangan itu dalam Taurat sendiri, mereka tidak mau. Bahkan mereka berpaling, dan membelakang. Membuktikan bahwa mereka telah berdusta besar. Mengapa mereka berani berdusta sebesar itu ? ialah karena ada kepercayaan pada mereka : kita orang Yahudi ini meskipun berdusta sedikit untuk mempertahankan diri, tidaklah mengapa. Sebab kalau kita masuk Neraka, asal kita terang orang Yahudi, hanya sebentar saja kita didalam, kita pun segera dikeluarkan. Sebab orang Yahudi adalah orang-orang yang utam disisi Allah, bukan sebagi bangsa-bangsa dan suku-suku yang lain, sebab mereka hina dibawah kita, sedang kita adalah “ kaum pilihan Allah”.
Darimana timbulnya pendirian yang sangat salah ini ? lanjutan ayat telah meberikan jawabannya: “ Karena mereka tela ditipu dalam hal agama mereka, olehlarangan-larangan (pemimpin-pemimpin) mereka.” (ujung ayat 24) .
Kembali lagi pada apa yang telah disebutkan diatas. Yaitu pemuka-pemuka agama lain memberikan tafsiran salah kepada pengikut-pengikut mereka, sehingga agam telah dipermurah-murah demikian rupa. Kalau inti-sari agama tidak lagi menjadi perhatian, dan kalau kegunaan agama untuk meperbaiki pribadi tidak diperdulikan lagi, timbulah tafsir-tafsir yang bukan-bukan terhadap agama. Agama yang tadinya untuk keselamatan seluruh manusia yang mematuhinya, telah dijadikan hak monopoli oleh suatu golongan ; dia pun telah berubah mnjadi semacam “kebangsaan”. Pemeluk agama kami adalah pemeluk yang paling mulia, walaupun perintahnya tidak pernah dikerjakan. Demikianla nasib orang Yahudi, atau orang Islam sendiri, kalau agama hanya tinggal kerosong. Ada orang Islam berkata, kalau kita orang Islam masuk neraka, kita hanya sebentar saja didalam, lantas segera dipindahkan ke surga. Sebab kita ummat Muhammad ini adalah ummat yang istimewa disisi Tuhan. Lain dengan pemeluk agama lain. Orang Yahudi atau Nashrani, walaupun bagaimana baik mereka, mereka itu pasti masuk neraka, dan kekal dalam neraka. Kita orang Islam tidak ! Bagaimanapun jatahnya, walaupun tidak pernah sembahyang, tidak pernah puasa, kerjanya hanya mencuri dan berbuat jahat, sebab dia Islam, dan akan masuk surga juga !
Kalau hanya hingga begini pendirian kita sebagai muslim, apakah ubah kita denga Yahudi yang tersebut diatas itu ? dan apa sebab Yahudi berpendapat demikian ? Sebab mereka hanya menurutkan apa yang diajarkan guru,dan tidak hendak menyelidiki lagi. Padahal apabila derajat iman orang sudah tinggi, dan Zuhud serta tunduknya pada Ilahi telah sampai ketempatnya yang layak,tidaklah berani mereka berkata demikian. Imam syafi’i sendiri, satu diantara kutan kaum muslimin yang berempat didalam memahamkan hukum-hukum agama, dan besar jumlah pengikut madzhabnya di tanah air kita ini, selalu beliau bermunajat dengan syairnya yang terkenal:
إلهي لست للفردوس أهــــلا # ولا أقوي على النار الجحيم
فهب لى توبة واغفر ذنوبى  # فإنك غافر ال1نب العظيم
“Ya Tuhanku! Semacam aku ini tidaklah layak buat jadi ahli surga; tetapi akupun tiada kuat jika masuk kedalam neraka.
Oleh sebab itu, ya Tuhanku, anugerahilah aku ini taubat dan ampunilah kiranya dosa-dosaku. Sesungguhnya engkau adalah Maha Pengampun atas dosa yang besar.”
Al-Qur’an adalah tuntunan untuk seluruh manusia, bahkan tidak pandang agama dan golongan . Al-Quran telah menunjukan jalan untuk melepaskan diri dari pada siksa neraka, dan mendapatkan kejayaan nikmat surge ialah dengan iman. Yaitu iman yang telah ditunjuka pula sifat-sifatnya didalamnya , iman yang diiringi dengan “amal yang shaleh, akhlaq yang mulia, taqwa dan sabar, serta menjauhi segala yang keji dan hina, dhahir dan bathin, seketika beramai-ramai dan bersendiri-sendiri. Dan memang Tuhanpun menyediakan ampunan, dan selalu kita memohonkan ampunan tuhan itu. Tetapi orang telah demikian jiwanya rusak, sehingga seluruh hidupnya telah diselubungi oleh kejahatan bahkan telah tenggelam didalamnya, sehingga telah hapus ras halus dalam jiwanya, tidak dia merasa apa-apa lagi berbuat jahat itu, kalau orang semacam itu diampuni.
Kemudian datanglah ayat mengajak kembali mereka berfikir sungguh-sungguh tentang keadaan yang sebenarnya akan dihadapi; “ Bagaimanakah hal mereka (kelak) ,apabila kami kumpulkan mereka pada hari yang tidak diragu-ragukan lagi padanya.” (pangkal ayat 25). Sedang hari itu pasti dating, lebih lama hidup artinya ialah lebih mempastikan bahwa pintu gerbang maut untuk menemui hari itu sudah bertambah dekat , kelamaan hidup adalah menunda kekalahan.” Dan disempurnakan bagi tiap-tiap seorang mereka apa yang di usahakan.”  Yang akan disempurnakan itu ialah ganjaran , setimpal dengan amal yang diusahakan. Baik diganjar dengan baik , jahat diganjar dengan jahat,atau ditimbang dengan sangat halus mana yang lebih berat, yang baikkah atau yang jahat ? “ Padahal mereka tidak akan dianiaya.” (ujung ayat 25).
Pastilah tiap-tiap orang menenrima ganjarannya dengan setimpal . sebentarkah atau lamakah, atau kekalkah dalam neraka ; atau langsung masuk ke surga. Bukan karena nama agama yang dianut, atau Karena dipusakai dari orang tua, melainkan Karena amal yang diperbuat. Aniaya tidak akan berlaku dikala itu. Sebab Tuhan Allah tidak berkepentingan untuk dirinya sendiri dengan menganiaya. Dan kalau semata-mata seseorang menyebut dirinya Yahudi, Nashrani,apa lagi memakai nama Islam, padahal amal tidak ada, iman tidak ada, jiwa  kosong dari persediaan, kalau mereka tidak disiksa karena bersalah dan tidak diberi karunia surge karena beramal baik, tersebab dia hanya memakai suatu nama, meskipun kosong, tidaklah adil Tuhan Allah. Mustakhil Tuhan tidak ada, dan mustakhil Tuhan Allah aniaya.[4]    



 


Kesimpulan
Dengan memahami kajian teori di atas, tentunya kita semakin mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara. Manusia lahir lalu bertumbuh-kembang, dan akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa kehidupan yang kekal hanya di akhirat kelak. Disana tidak ada lagi kematian. Orang-orang beriman dan beramal saleh akan hidup selamanya di surga. Sebaliknya, orang-orang kafir dan beramal buruk akan hidup di neraka untuk selamanya.
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan yaitu Ayat tentang Hari Akhir. Semoga apa yang telah dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua dan menjadi referensi pengetahuan kita.
           














DAFTAR PUSTAKA
v  Departemen Agama. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV (Edisi yang Disempurnakan). Jakarta: Lentera Abadi
v  Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Semarang: Effhar Offset, 1993.   Jilid I & III
v  Muhammad Ahmad Isawi.2009.  Tafsir Ibnu Mas’ud. Jakarta: Pustaka Azzam.
v  http: hari akhir/Fungsi Beriman Pada Hari Akhir _ Sumber kita.htm
v  Tafsir AL-AZHAR, juz ke III oleh HAMKA, penerbit;pembimbing masa –jakarta.
v  Buku “Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier” penerjemah; H. Salim Bahreisy dan H.
o   Said Bahreisy, jilid II,Surabaya 1990.
v  Buku:Sayyid Quthub; Tafsir Fi Dilaalil Qur’an (di bawah naungan alquran) jilid II jakarta,gema insani press 2001.

v  Buku: Tafsir Al-Misbah (Pesan,Pesaan dan Keserasian Al-Quran), jakarta, lentera hati, jilid II,tahun 2000.





[1] Buku “Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier” penerjemah; H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, jilid II,Surabaya 1990
[2] Buku:Sayyid Quthub; Tafsir Fi Dilaalil Qur’an (di bawah naungan alquran) jilid II, jakarta,gema insani press 2001.

[3] Buku: Tafsir Al-Misbah (Pesan,Pesaan dan Keserasian Al-Quran), jakarta, lentera hati, jilid II,
 tahun 2000.

[4] .Tafsir AL-AZHAR juz ke III oleh HAMKA, penerbit;pembimbing masa –jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

that's all on my mine