Pendahuluan
Hari akhir adalah momentum bagi seluruh manusia atau hari dimana
semua manusia dikumpulkan menjadi satu di akhirat. Segalanya akan di hancurkan,
harta yang kita miliki, jabatan dan
segala bentuk yang berorientasi dunia semua akan hancur, dalam hal ini tentu
hampir semua manusia mempercayai akan hari itu yakni hari dimana manusia akan
di hisab atas amalan-amalan yang mereka kerjakan di dunia.
Kesadaran dalam menjalankan perintah sang khaliq merupakan hal yang
harus diperhatikan bagi setiap muslim. Namun, sangat disayangkan jika kita melihat realitas kehidupan umat muslim sekarang, mereka terperdaya oleh megahnya dunia
sehingga ia lupa terhadap kewajibannya kepada sang khaliq. korupsi, suap dan kebohongan yang telah dilakukan adalah implikasi dari kelalaian atas perintah Allah SWT. selaras dengan orang-orang yahudi dan nashrani yang telah melanggar dan mengingkari terhadap perintah yang telah Allah intruksikan yaitu menetapkan hukum yang terdapat dalam injil dan taurat. Dari kejadian tersebut dapat kita selaraskan dengan apa yang telah terjadi dalam realita kehidupan kita ialah menyepelekan terhadap firmannya baik itu disadari atau tidak.
harus diperhatikan bagi setiap muslim. Namun, sangat disayangkan jika kita melihat realitas kehidupan umat muslim sekarang, mereka terperdaya oleh megahnya dunia
sehingga ia lupa terhadap kewajibannya kepada sang khaliq. korupsi, suap dan kebohongan yang telah dilakukan adalah implikasi dari kelalaian atas perintah Allah SWT. selaras dengan orang-orang yahudi dan nashrani yang telah melanggar dan mengingkari terhadap perintah yang telah Allah intruksikan yaitu menetapkan hukum yang terdapat dalam injil dan taurat. Dari kejadian tersebut dapat kita selaraskan dengan apa yang telah terjadi dalam realita kehidupan kita ialah menyepelekan terhadap firmannya baik itu disadari atau tidak.
Perlu diketahui bahwa manusia diciptakan di dunia ia mempunyai
suatu opsi untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena Allah
SWT menciptakan neraka dan surga seperti yang telah Allah firmankan di dalam
ayatnya yang berbunyi:
`yJsù ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB >o§s #\øyz ¼çntt ÇÐÈ `tBur ö@yJ÷èt tA$s)÷WÏB ;o§s #vx© ¼çntt ÇÑÈ
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,
niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Ayat di atas telahlah jelas bahwa pada hari kiamat nanti semua
manusia akan di hisab tergantung dari amal perbuatan yang telah mereka lakukan
untuk dimasukan surga atau neraka. Itu semua merupakan sistem yang telah Allah
ciptakan untuk digunakan manusia sebaik-baiknya.
Berikut hal-hal yang akan dipaparkan secara lebih rinci terkait
dengan Ayat-ayat tentang hari akhir beserta penafsirannya.
Pembahasan
Hari Akhir disebut juga dengan Hari Kiamat,
artinya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan ini semua manusia yang telah
meninggal dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan semua amal perbuatannya
selama hidup didunia. Dan kita sebagai umat muslim wajib meyakini adanya hari
kiamat tersebut. Dengan meyakini adanya hari kiamat, kita akan berusaha mencari
tahu tentang gambaran hari kiamat, bagaimana terjadinya kiamat, tanda-tanda
datangnya hari kiamat serta kehidupan kita kelak di akhirat. Jika telah
mengetahui ketiga hal tersebut, maka secara otomatis kita akan termotivasi
untuk meningkatkan iman kepada Allah. Mengapa ? karena kita akan sadar dengan
apa yang telah kita lakukan selama ini ! dosa ataukah pahala ? dan kita akan merasa takut akan ganjaran yang
akan kita terima kelak di akhirat jika kita melakukan banyak dosa. Dengan
adanya perasaan itu, umat muslim tersebut akan berusaha meningkatkan imannya
kepada Allah SWT.
1. Ali Imran ayat 25
فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا
رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“
”bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat)
yang tidak diragukan terjadinya, kepada setiap jiwa (diberi balasan yang
sempurna) sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi
(dirugikan).”
Munasabah
Dalam ayat-ayat yang sebelumnya telah diterangkan kejelekan tingkah
laku orang yahudi yaitu mengabaikan dakwah Nabi, membunuh para Nabi dan
orang-orang bijak yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu adalah
sebagai keterangan Allah bagi para rosul-Nya bahwa berpalingnya mereka dari
dakwah nabi bukanlah suatu hal yang baru atau mengherankan. Lalu pada ayat ini,
Allah memperingatkan kepada nabi Muhammad saw, tentang kejanggalan sikap orang Yahudi dalam hidup beragama, yaitu
mereka menolak untuk mengambil hukum dari kitab mereka sendiri. Bila mereka
diajak untuk kembali kepada kitab suci mereka, mereka pun selalu menolak.
Sebab Nuzul
Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, dari Abdullah bin Umar, bahwa
beberapa orang Yahudi datang menghadap
Rasulullah saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang
telah berbuat zina. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Bagaimana
tindakanmu terhadap orang yang berbuat zina?” Mereka menjawab, “Kami lumur
mereka dengan abu lalu kami pukuli”. Rasulullah saw berkata, “Tidaklah kamu
temukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab, “Tidak… kami tidak
menemukan hukum itu di dalamnya”. Abdullah bin Salam berkata kepada mereka,
“Kamu telah berdosa, Bawalah Taurat, Bacalah jika kamu sekalian benar”. Lalu
salah seorang yang ahli dalam Taurat diantara mereka meletakkan telapak
tangannya diatas ayat rajam. Mulailah dia membaca selain dari yang tertutup
oleh telapak tangannya. Kemudian Abdullah bin Salam mengangkat telapak tangan
orang yang menutupi ayat rajam, lalu dia berkata kepada orang-orang yahudi itu
, “ini apa?” Tatkala orang Yahudi itu melihatnya, mereka berkata, “itu adalah
ayat rajam”. Maka Rasullullah memerintahkan untuk merajam mereka berdua sesuai
dengan perintah Taurat. Lalu mereka dirajam dekat kuburan disamping masjid.
“Akan tetapi orang Yahudi marah terhadap hukuman ini, maka Allah mencela sikap
mereka dengan ayat ini.”
Tafsir
Ayat ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang
Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan
bagaimanakah keadaan orang Yahudi
bilamana hari Kiamat yang tidak diragukan lagi itu telah datang.
Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan
huruhara yang terjadi dihari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan
kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh pada jurang penderitaan, tak akan
ada jalan untuk menyelamatkan diri. Sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa
dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari azab itu adalah angan-angan kosong.
Pada hari yang dahsyat itu orang akan melihat dengan jelas apa yang
telah dikerjakannya, baik atau buruk akan dihadapkan pada mereka. Kemudian
segala amal perbuatan akan dibalas dengan kesengsaraan jika amal itu buruk.
Tidak ada hak istimewa yang dapat diberikan kepada pemeluk suatu agama tertentu
dan golongan tertentu. Tidak pula suatu bangsa mendapat keistemewaan atas
bangsa-bangsa lainnya sekalipun mereka menanamkan dirinya dengan sya’bullah
al-mukhtar (rakyat Allah yang terpilih) atau anak Allah. Pembalasan pada hari
kiamat itu sesuai dengan baik buruknya iktikad yang terkandung dalam hati dan
sesuai pula dengan baik buruknya amal perbuatan yang telah dilakukan.
Pada hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna. Tidak akan
dikurangi sedikitpun balasan terhadap suatu perbuatan dan tidak pula akan
ditambah. Yang menjadi pertimbangan pada hari itu ialah keimanan seseorang dan
pengaruh iman itu terhadap amal perbuatannya sewaktu didunia. Kalau dia tidak
beriman, maka ia akan masuk kedalam neraka, karena amal-amalnya buruk. Jika
imannya tidak sampai rusak, karena diimbangi dengan amal saleh atau seimbang
antara yang baik dengan yang buruk, maka dia mendapat balasan sesuai dengan
derajad dan kadarnya masing-masing.
Dalam ayat ke 25 ali imron juga masih terkait terhadap ayat-ayat
yang sebelumnya yaitu ayat ke 23 dan 24, hal telah tercacat dalam buku
“Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir” bahwa firman Allah dalam 3 ayat
menjelaskan bahwa mengingkari anggapan orang- orang Yahudi dan Nashrani yang
berpegang pada kitab-kitab mereka Taurat dan Injil dan diserukan agar mereka
menetapkan hukum-hukum yang terdapat di dalam kedua kitab itu untuk menaati
perintah Allah dengan mempercayai Muhammad dan mengikuti jejaknya, mereka
selalu berpaling dan membelakangi perintah Allah itu. Hal mana merupakan puncak
pelanggaran dan sikap keras kepala yang sangat tercela. Dan sesungguhnya apa
yang memberanikan mereka melanggar dan membelakangi kebenaran ialah pengakuan
yang mereka ada-adakan bahwa mereka akan mengalami siksa neraka hanya selama
tujuh hari untuk tiap seribu tahun yang menurut perhitungan dunia satu hari.
(lihat lebih jauh tentang hal ini di dalam tafsir Al-Baqarah ).
Pengakuan yang berupa penipuan diri sendiri bahwa mereka tidak akan
disentuh oleh api neraka hanya beberapa hari saja itulah yang menyebabkan
mereka berpegangan teguh kepada agama mereka yang bathil itu, pada hal Allah
menurunkan keterangan atau tanda yang membenarkan anggapan mereka itu. Karena
Allah mengancam mereka dengan membayangkan bagaimana keadaan mereka kelak di
hari qiamat, bilamana mereka dikumpulkan pada hari yang tidak diragukan
kedatangannya itu, dimana tiap-tiap diri orang disempurnakan balasannya atas
segala usahanya. Mereka itu yang berdusta terhadap Allah, mendustakan para
rasul-Nya, membunuh nabi-nabi dan para ulama yang melakukan amar ma’ruf nahi
munkar akan dimintai pertanggung jawabnya dan akan diadili serta diganjar
setimpal dengan perbuatannya pada hari berkumpul (hari qiamat) itu.[1]
Pertanyaan ini untuk menunjukan keheranan dan kepopuleran sikap
kontradiktif yang aneh ini. Sikap orang-orang yang telah di beri alkitab, yaitu
Taurat bagi orang-orang Yahudi dan Injil bagi orang-orang Nashrani. Dan
masing-masing disebut bagian dari kitab, karena kitab Allah adalah semua kitab
yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, yang semuanya menetapkan ke-esaan
uluhiyah dan qowamah. Maka semua kitab itu pada hakikatnya adalah satu. Kaum
Yahudi di beri bagian darinya dan kaum Nashrani juga di beri bagian darinya.
Sedangkan kaum muslimin di beri kitab itu seluruhnya dalam pengertian bahwa
Al-Qur’an itu menghimpun semua pokok agama dan membenarkan kitab yang ada
sebelumnya.
Selain itu, pertanyaan ini juga menunjukan keheranan mengenai
mereka “yang telah diberi bagian yaitu alkitab (taurat)” kemudian diseru pada
kitab itu untuk memutuskan apa yang terjadi diantara mereka dan untuk menjadi
pedoman dalam persoalan kehidupan dan penghidupan mereka, tetapi mereka tidak
memenuhi seruan ini. Malah sebagian dari mereka menolak dan berpaling dari
berhukum kepada kitab allah dan syariatnya. Inilah suatu sikap yang
kontradiktif dengan keimanan terhadap kitab allah yang manapun, dan tidak
sejalan dengan pengakuan mereka sebagai ahli kitab, “tidakkah kamu
memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian Yaitu Al kitab (Taurat),
mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara
mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu
membelakangi (kebenaran).”
Demikianlah Allah menyatakan keheranannya terhadap kaum ahli kitab
ketika sebagian dari mereka menolak
untuk berhukum kepada kitab Allah dalam persoalan akidah dan kehidupan.
Maka bagaimanakah dengan orang-orang
yang mengatakan bahwa dirinya muslim, tetapi kemudian mereka menyimpang dari
syariat Allah dalam semua urusan kehidupan mereka? Kemudian mereka berbuat
dzalim, tetapi tetap saja mengaku muslim?
Sebenarnya, ini juga merupakan perumpamaan yang dibuat Allah bagi
kaum muslimin, supaya mereka mengetahui
hakikat din dan tabiat Islam, juga supaya mereka berhati-hati agar
jangan sampai menjadi sasaran keheranan dan diumumkan sifatnya oleh Allah.
Apabila demikian pengingkaran sikap kaum Ahli Kitab yang tidak
mendakwakan diri muslim, ketika sebagian dari mereka menolak berhukum kepada
kitab Allah, maka bagaimana lagi bentuk pengingkaran kalau kaum muslimin yang
melakukan penolakan dan penyimpangan itu?
Sungguh, ini merupakan keheranan
yang tidak ada habis-habisnya, bencana yang tertanggungkan, dan kebencian yang
berujung pada kesengsaraan dan keterusiran dari rahmat Allah. Kita berlindung
kepad Allah dari yang demikian itu !
Kemudian disingkapkanlah hal-hal yang menyebabkan mereka bersikap
ingkar dan kontroversial itu, “adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak
akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung".
mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan”.
Inilah yang menjadi sebab berpalingnya mereka dari berhukum kepada
Allah dan kontradiksinya pengakuan mereka sebagai orang beriman dan ahli kitab.
Yaitu tidak adanya kepercayaan kepada diberlakukannya hisab pada hari kiamat
dan di tegakannya keadilan Ilahi yang tidak pilih kasih dan tidak miring kepada
pihak tertentu. Hal ini tampak dengan perkataan mereka, “Kami tidak akan
disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.”
Kalau tidak, maka tanyakanlah kepad mereka,” mengapakah mereka
tidak akan disentuh oleh api neraka
melainkan beberapa hari yang dapat dihitung saja ? mengapakah mereka berpaling
dari hakikat din yaitu berhukum kepada kitab Allah dalam segala urusan ?
mengapakah demikian sikap mereka, kalau mereka benar-benar percaya kepada
keadilan Allah ? bahkan, kalau mereka merasa akan bertemu dengan Allah ? “
sesungguhnya, mereka tidak berkata melainkan yang mengada-ada, kemudian
mereka terperdaya oleh tindakan yang mengada-adanya itu, “diperdayakan dalam
agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan..”
Sudah tentu, tidak akan berkumpul dalam hati seseorang suatu
kepercayaan yang sunggu-sungguh akan bertemu Allah dan perasaan terhadap
hakikat pertemuan ini, dengan lupa menggambarkan balasan dan keadilannya ini.
Sudah tentu, tidak akan berkumpul dalam hati seseorang suatu perasaan takut
kepada akhirat dan malu kepada Allah, dengan sikap menolak berhukum kepada
kitab Allah dan menjadikannya pedoman dalam segala urusan kehidupannya.
Perumpamaan kaum ahl kitab yang demikian itu seperti orang-orang
sekarang yang mengaku muslim, kemudian diseru untuk berhukum kepada kitab
allah, lalu mereka berpaling dan menolak. Dan diantara mereka ada yang membual
dan tidak tahu malu mengatakan bahwa kehidupan manusia itu urusan dunia, bukan
agama , dan tidak perlu memberlakukan agama dalam kehidupan manusia dalam
bidang pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan sosial,
bahkan keluarga. Kemudian setelah itu mereka masih mengaku sebagai orang
muslim! Lalu sebagian mereka dengan keterperdayaan dan kedunguannya mengira
bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka melainkan sekadar untuk mebersihkan
mereka dari kemaksiatan, dan setelah itu mereka akan digiring ke surga.
Bukankah mereka itu muslim? Sesungguhnya, anggapan itu sama dengan
anggapan ahli kitab itu, dan sama pula keterperdayaan mereka oleh tindakan
mengada-ada yang sama sekali tidak ada pijakannya dalam agama. Sesungguhnya,
sebagai ahli kitab itu dan sebagian orang muslim ini sama sama terlepas dari
pokok dan hakikat agama yang diridloi oleh Allah, yaitu Islam, dalam pengertian
tunduk menyerah, taat dan ittiba’ serta menerima ajaran Allah dalam semua
urusan kehidupannya,
“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat)
yang tidak ada keraguan tentang adanya. dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri
Balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).”
Bagaimana ? sesungguhnya, ini adalah ancaman menakutkan yang
merinding hati orang mu’min menghadapinya kalau ia merasakan kepastian
terjadinya hari itu, kepastian bertemu Allah, dan kepastian keadilan Allah.
Gambaran dan perasaannya tidak lebur bersama angan-angan yang bathil dan kebohongan
yang menipu.
Ancaman ini berlaku bagi semua manusia, baik musyrik, atheis, ahli
kitab, maupun yang mengaku beragama islam. Semuanya sama dalam arti tidak
merealisasikan islam di dalam kehidupan mereka.
“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat)
yang tidak ada keraguan tentang adanya? “ dan,keadilan ilahi berlaku secara
proporsional? “dan, dan disempurnakan pada tiap-tiap diri pada yang di
usahakannya” dengan tanpa ada kedzaliman
dan pilih kasih ? “ sedang mereka tidak dianiaya” sebagaimana tidak ada
tindakan pilih kasih terhadap mereka dalam hisab Allah?
Pertanyaan ini dilontarkan dan dibiarkan tak berjawab. Maka,
berguncang dan gemetar lah hati ketika membayangkan jawabannya ! [2]
Kalau keadaan mereka dalam kehidupan dunia ini demikian adanya,
yakni masih dapat berbohong dan mempercayai kebohongan mereka sendiri karena
manusia didunia memang di beri pilihan, maka bagaimanakah nanti apabila mereka
kami kumpulkan di hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang adanya ? disana
tidak ada pilihan, tidak ada kebohongan, dan tidak ada tipu daya. Ketika itu
segala rahasia akan terbongkar.ketika itu segala tipu daya akan nyata,dan akan
jelas bahwa kepercayaan mereka tidak benar, dan harapan mereka adalah
angan-angan kosong. Ketika itu mereka akan menemukan sangsi pelanggaran dan
kebohongan mereka. Karena pada hari itulah disempurnakan kepada tiap-tiap jiwa
balasan apa yang di usahakannya , jika baik maka ia memperoleh ganjaran dan
jika buruk maka buruk pula balasannya. Namun demikian, mereka tidak dianiaya,yakni dirugikan oleh siapapun. Hari
itu akan disempurnakan, bisa jadi sebulumnya ketika di alam barzah sebelum
mereka di bangkitkan dari kubur,atau ketika di dunia bisa jadi mereka telah
mendapat panjar tetapi belum sempurna,
sehingga nanti di hari kemudian baru akan disempurnakan.[3]
Setengah orang suka memakai pikirannya dan dapat diajak berunding.
Mereka dapat mengerti kalau dikatakan bahwa hakikat agama ialah menyerah diri
kepada Allah, yang kelaknya akan berarti tunduk kepada perintah Allah,
mengerjakan yang disuruh dan menghentikan yang dilarang. Tetapi setengah orang
lagi, demikian tebal hawa-nafsunya, sehingga ajakan yang dilakukan secara
lemah-lembut tidak berfaedah, malahan bertambah diajak mereka bertambah benci.
Untuk golongan yang begini berkatalah
lanjutan ayat :
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada perintah-perintah
Allah” tidak mau menerima kebenaran,
ditutupnya telinga dan hatinya “ dan mereka membunuh nabi-nabi dengan tidak
benar”, sebagai yang kerap kali yang dilakukan oleh orang yahudi kepada
nabi mereka sendiri. Berpuluh nabi yang tidak mereka senangi telah mereka
bunuh. Dan telah mereka bunuh pula Nabi Zakariya dan putranya Nabi Yahya, dan
coba pula mereka hendak menarik tangan pihak penguasa supaya Nabi ‘Isa Almasihpun
dibunuh, tetapi dipelihara oleh Allah. Meskipun orang yahudi yang hidup dizaman
Rasulullah hanya keturunan yang kesekian dari nenek-moyang mereka, yang
membunuh Nabi-Nabi itu, namun sifat nafsu jahat itu masih ada pada mereka.
Mereka telah kedapatan dua tiga kali membuat komplot hendak membunuh Nabi
Muhammad s.a.w. oleh karena mereka tidak mempunyai pertahanan buat menolak
seruan Nabi, sedang nafsu mereka penuh kebencian, tidak lain bagi mereka
hanyalah membunuh, itu sebabnya maka dikatakan membunuh dengan tidak benar.
Artinya Nabi-Nabi itu tidak bersalah sehingga membunuh itu tidak patut. Mereka
menyangka dengan cara demikian akan tercapailah penyelesaian, sebab tela
tersingkir orang-orang yang mereka anggap hendak mengubah-ubah pusaka
kepercayaan mereka.” Dan membunuh orang-orang yang menyuruhkan keadilan dari
manusia.” Yaitu ahli-ahli fikir yang berani menyatakan kebenaran,menyebut
yang terasa, menunjukan jalan yang adil, membawa perubahan-perubahan berfikir
kepada masyarakat, meskipun mereka bukan Nabi. Sebagai Socrates dalam dunia
filsafat, yang juga mati dihukum bunuh oleh penguasa Yunani dengan tuduhan
merusak pikiran anak muda-muda dan meremehkan agama pusaka nenek-moyang, begitu
pula lah yang mereka lakukan terhadap orang-orang yang mendirikan keadilan atau
dizaman-zaman yang selanjutnya, orang-orang yang tidak senang kebiasaan yang
buruk diganggu oleh orang yang membawa perubahan-perubahan pikiran kepada
kemajuan, lalu mereka main bunuh.” Maka beri ancamanlah mereka dengan siksa
yang pedih.”(ujung ayat 21).
Ancaman siksa yang pedih pada orang-orang yang berjiwa demikian
rendah, yang karena tidak sanggup menolak seruan yang benar dengan kebenaran
pula, lalu dengan secara hina membenarkan prndirian yang salah, sampai membunuh
segala, dijelaskan pada ayat yang selanjutnya :
“itulah orang-orang yang telah percuma amal-amal mereka”
(pangkal ayat 22), sehingga arang habis besi binasa, sebab amal yang berhasil
adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian.
“Didunia dan diakhirat.” Dalam dunia segala amal mereka percuma, gagal
dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau didunia sudah tidak ada, niscaya
diakhiratpun kosong, malahan ‘adzab siksalah yang akan mereka derita. “Dan
tidak ad bagi mereka orang-orang yang akan menolong.” (ujung ayat 22).
Siapa orang yang akan dapat menolong ? kalau siksaan Tuhan telah
datang ? siapa juga yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah
diruntuhkan sendiri oleh Tuhan ? siapa yang akan dapat membela, orang yang
jatuh lantaran salahnya sendiri ?
Seorang sopir mobil mengantuk. Disuatu tikungan ada tertulis :
“awas kalau hujan licin”. Tetapi tidak diperdulikannya tulisan itu, mobil
ijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba tempat yang menurun dia
selip, sehingga jatuh londong-pondong masuk jurang yang dalam. Siapa yang akan
dapat menolong pada waktu itu, sehingga dia tidak jadi jatuh?
“Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang telah di beri
sebahagian dari kitab.” (pangkal ayat 23). Maksud diberi “sebahagian dari
kitab”, ialah bahwa mereka telah memahamkan “sebahagian” dai isi kitab,
kadang-kadang mereka hafal diluar kepala sebagian besar ayatnya, atau
keseluruhannya, tetapi “sebahagian” itu sajalah yang dia dapat dari kitab itu.
Adapun maksud yang lebih terkandung dalam kitab itu mereka tidak mengerti. Yang
dimaksud disini ialah orang-orang Yahudi, yang mengetahui sebahagian dari kitab
Taurat. “(seketika) di ajak mereka kepada kitab Allah supaya memutuskan
diantara mereka ? kemudian berpaling sebahagian dari mereka, padahal mereka membelakang
?” (ujung ayat 23).
Menurut riwayat dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim
dari Ibnu ‘Abbas pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. masuk kerumah tempat
Yahudi mempelajari agama mereka, mengajak mereka kepada jalan Allah. Maka
bertanyalah kepada beliau dua orang pemuka Yahudi yang ada disana diwaktu itu,
yaitu An-Nu’man bin ‘Amr dan Al-Haris bin Zaid: “ Engakau datang dengan membawa
agama apa, ya Muhammad ? “ Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “ Aku datang dengan agam
Ibrahim dan peraturannya.” Maka kedua penanya itu berkata pula: “ Tetapi
Ibrahim adalah Yahudi.” Dengan tegas Nabi s.a.w. menyambut kata mereka itu : “
Mari kita ambil Taurat, dia kita jadikan alat pemutus diantara kita dalam soal
ini. Apa betulkah Yahudi agama Ibrahim atau Islam!” tetapi kedua orang itu
tidak mau. Demikian salah satu riwayat tentang sebab-sebab turunnya ayat ini.
Mungkin mereka menyangka, sebab Nabi kita s.a.w memang tidak tahu
menulis dan membaca, akan dapat saja beliau ditipu dan dikelabuhi dengan
perkataan demikian; mengatakan Nabi Ibrahim orang Yahudi. Padahal nama Yahudi
diambil dari nama Yahuda, anak dari cucu beliau Ya’qub. Dan Nabi Ibrahim telah
meninggal seketika Yahuda lahir kedunia. Adakan mungkin diakal sinenek menganut
agama yang memakai nama anak dari cucunya ? alias cucunya? Tantangan Nabi
Muhammad sangat jitu sekali. Beliau suruh bawa Taurat itu dan mari baca
bersama-sama, difasal dan di ayat berapa ada tersebut bahwa Nabi Ibrahim orang
Yahudi ? maka sipenanya yang berdua itu berpaling, bahkan membelakang, karena
takut akan perhadapkan dengan kebenaran.
Demikian pula kalau misalkan terjadi pertukaran fikiran diantara
seorang muballigh Islam dan seorang missionaris Katholik atau Zending
Protestan, yang sungguh-sungguh memprogandakan bahwa Nabi ‘Isa adalah tuhan
pula disamping Allah, atau dia sendiri adalah Allah katanya hal itu dikatakan
oleh Nabi ‘Isa sendiri didalam injil. Maka kalau diminta keterangan injil
dimana dan fasal yang keberapa, ditanya yang mana ada tersebut bahwa Nabi ‘Isa
sendiri mengakui dirinya sebagai Allah ? Atau Tuhan yang Maha Kuasa pula atas
seluruh alam ini menyerupai Allah ? sebab ini mengenai kepercayaan, niscaya ada
wahyu yang jelas dari Nabi’Isa sendiri ? mereka tentu tidak akan dapat
mengemukakannya, kecuali dengan mengemukakan penafsiran yang telah diputuskan
oleh pendeta, menurut yang diajarkan oleh Paulus, seorang yahudi yang membenci
pengikut Nabi ‘Isa, lalu setelah Nabi’Isa meninggal, dia memaklumkan dirinya
telah jadi kristen maka ia mengeluarkan pelajaran yang jauh berbeda dari apa
yang diajarkan Nabi ‘Isa sendiri.
“yang demikianlah ialah karena mereka berkata : “ sekali-kali
kami tidak akan disentuh oleh api neraka, melainkan beberapa hari saja.”
(pangkal ayat 24). Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya tadi, dua
orang pemuka Yahudi berani mengatakan Nabi Ibrahim adalah orang-orang Yahudi,
tetapi seketika diajak mengambil keputusan dan mencari keterangan itu dalam
Taurat sendiri, mereka tidak mau. Bahkan mereka berpaling, dan membelakang.
Membuktikan bahwa mereka telah berdusta besar. Mengapa mereka berani berdusta
sebesar itu ? ialah karena ada kepercayaan pada mereka : kita orang Yahudi ini
meskipun berdusta sedikit untuk mempertahankan diri, tidaklah mengapa. Sebab
kalau kita masuk Neraka, asal kita terang orang Yahudi, hanya sebentar saja
kita didalam, kita pun segera dikeluarkan. Sebab orang Yahudi adalah
orang-orang yang utam disisi Allah, bukan sebagi bangsa-bangsa dan suku-suku
yang lain, sebab mereka hina dibawah kita, sedang kita adalah “ kaum pilihan Allah”.
Darimana timbulnya pendirian yang sangat salah ini ? lanjutan ayat
telah meberikan jawabannya: “ Karena mereka tela ditipu dalam hal agama
mereka, olehlarangan-larangan (pemimpin-pemimpin) mereka.” (ujung ayat 24)
.
Kembali lagi pada apa yang telah disebutkan diatas. Yaitu
pemuka-pemuka agama lain memberikan tafsiran salah kepada pengikut-pengikut
mereka, sehingga agam telah dipermurah-murah demikian rupa. Kalau inti-sari
agama tidak lagi menjadi perhatian, dan kalau kegunaan agama untuk meperbaiki pribadi
tidak diperdulikan lagi, timbulah tafsir-tafsir yang bukan-bukan terhadap
agama. Agama yang tadinya untuk keselamatan seluruh manusia yang mematuhinya,
telah dijadikan hak monopoli oleh suatu golongan ; dia pun telah berubah mnjadi
semacam “kebangsaan”. Pemeluk agama kami adalah pemeluk yang paling mulia,
walaupun perintahnya tidak pernah dikerjakan. Demikianla nasib orang Yahudi,
atau orang Islam sendiri, kalau agama hanya tinggal kerosong. Ada orang Islam
berkata, kalau kita orang Islam masuk neraka, kita hanya sebentar saja didalam,
lantas segera dipindahkan ke surga. Sebab kita ummat Muhammad ini adalah ummat
yang istimewa disisi Tuhan. Lain dengan pemeluk agama lain. Orang Yahudi atau
Nashrani, walaupun bagaimana baik mereka, mereka itu pasti masuk neraka, dan
kekal dalam neraka. Kita orang Islam tidak ! Bagaimanapun jatahnya, walaupun
tidak pernah sembahyang, tidak pernah puasa, kerjanya hanya mencuri dan berbuat
jahat, sebab dia Islam, dan akan masuk surga juga !
Kalau hanya hingga begini pendirian kita sebagai muslim, apakah
ubah kita denga Yahudi yang tersebut diatas itu ? dan apa sebab Yahudi
berpendapat demikian ? Sebab mereka hanya menurutkan apa yang diajarkan
guru,dan tidak hendak menyelidiki lagi. Padahal apabila derajat iman orang sudah
tinggi, dan Zuhud serta tunduknya pada Ilahi telah sampai ketempatnya yang
layak,tidaklah berani mereka berkata demikian. Imam syafi’i sendiri, satu
diantara kutan kaum muslimin yang berempat didalam memahamkan hukum-hukum
agama, dan besar jumlah pengikut madzhabnya di tanah air kita ini, selalu
beliau bermunajat dengan syairnya yang terkenal:
إلهي
لست للفردوس أهــــلا # ولا أقوي على النار الجحيم
فهب
لى توبة واغفر ذنوبى # فإنك غافر ال1نب
العظيم
“Ya Tuhanku! Semacam
aku ini tidaklah layak buat jadi ahli surga; tetapi akupun tiada kuat jika
masuk kedalam neraka.
Oleh sebab itu, ya Tuhanku, anugerahilah
aku ini taubat dan ampunilah kiranya dosa-dosaku. Sesungguhnya engkau adalah
Maha Pengampun atas dosa yang besar.”
Al-Qur’an adalah tuntunan untuk seluruh manusia,
bahkan tidak pandang agama dan golongan . Al-Quran telah menunjukan jalan untuk
melepaskan diri dari pada siksa neraka, dan mendapatkan kejayaan nikmat surge
ialah dengan iman. Yaitu iman yang telah ditunjuka pula sifat-sifatnya
didalamnya , iman yang diiringi dengan “amal yang shaleh, akhlaq yang mulia,
taqwa dan sabar, serta menjauhi segala yang keji dan hina, dhahir dan bathin,
seketika beramai-ramai dan bersendiri-sendiri. Dan memang Tuhanpun menyediakan
ampunan, dan selalu kita memohonkan ampunan tuhan itu. Tetapi orang telah
demikian jiwanya rusak, sehingga seluruh hidupnya telah diselubungi oleh
kejahatan bahkan telah tenggelam didalamnya, sehingga telah hapus ras halus
dalam jiwanya, tidak dia merasa apa-apa lagi berbuat jahat itu, kalau orang
semacam itu diampuni.
Kemudian datanglah ayat mengajak kembali
mereka berfikir sungguh-sungguh tentang keadaan yang sebenarnya akan dihadapi;
“ Bagaimanakah hal mereka (kelak) ,apabila kami kumpulkan mereka pada hari
yang tidak diragu-ragukan lagi padanya.” (pangkal ayat 25). Sedang hari itu
pasti dating, lebih lama hidup artinya ialah lebih mempastikan bahwa pintu
gerbang maut untuk menemui hari itu sudah bertambah dekat , kelamaan hidup
adalah menunda kekalahan.” Dan disempurnakan bagi tiap-tiap seorang mereka
apa yang di usahakan.” Yang akan
disempurnakan itu ialah ganjaran , setimpal dengan amal yang diusahakan. Baik
diganjar dengan baik , jahat diganjar dengan jahat,atau ditimbang dengan sangat
halus mana yang lebih berat, yang baikkah atau yang jahat ? “ Padahal mereka
tidak akan dianiaya.” (ujung ayat 25).
Pastilah tiap-tiap orang menenrima
ganjarannya dengan setimpal . sebentarkah atau lamakah, atau kekalkah dalam
neraka ; atau langsung masuk ke surga. Bukan karena nama agama yang
dianut, atau Karena dipusakai dari orang tua, melainkan Karena amal yang
diperbuat. Aniaya tidak akan berlaku dikala itu. Sebab Tuhan Allah tidak
berkepentingan untuk dirinya sendiri dengan menganiaya. Dan kalau semata-mata
seseorang menyebut dirinya Yahudi, Nashrani,apa lagi memakai nama Islam,
padahal amal tidak ada, iman tidak ada, jiwa
kosong dari persediaan, kalau mereka tidak disiksa karena bersalah dan
tidak diberi karunia surge karena beramal baik, tersebab dia hanya memakai
suatu nama, meskipun kosong, tidaklah adil Tuhan Allah. Mustakhil Tuhan tidak
ada, dan mustakhil Tuhan Allah aniaya.[4]
Kesimpulan
Dengan memahami kajian teori di atas, tentunya kita semakin
mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara. Manusia lahir
lalu bertumbuh-kembang, dan akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan hewan
dan tumbuhan. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa kehidupan yang
kekal hanya di akhirat kelak. Disana tidak ada lagi kematian. Orang-orang
beriman dan beramal saleh akan hidup selamanya di surga. Sebaliknya,
orang-orang kafir dan beramal buruk akan hidup di neraka untuk selamanya.
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan yaitu Ayat tentang
Hari Akhir. Semoga apa yang telah dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat
untuk kita semua dan menjadi referensi pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
v Departemen Agama. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV (Edisi
yang Disempurnakan). Jakarta: Lentera Abadi
v Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Semarang: Effhar
Offset, 1993. Jilid I & III
v Muhammad Ahmad Isawi.2009. Tafsir
Ibnu Mas’ud. Jakarta: Pustaka Azzam.
v http: hari akhir/Fungsi Beriman Pada Hari Akhir _ Sumber kita.htm
v Tafsir AL-AZHAR, juz ke III oleh HAMKA, penerbit;pembimbing masa –jakarta.
v Buku “Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier” penerjemah; H.
Salim Bahreisy dan H.
o
Said
Bahreisy, jilid II,Surabaya 1990.
v Buku:Sayyid Quthub; Tafsir Fi Dilaalil Qur’an (di bawah
naungan alquran) jilid II jakarta,gema insani press 2001.
v Buku: Tafsir Al-Misbah (Pesan,Pesaan dan Keserasian
Al-Quran), jakarta, lentera hati, jilid II,tahun 2000.
[1] Buku “Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsier” penerjemah; H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy,
jilid II,Surabaya 1990
[2] Buku:Sayyid Quthub; Tafsir Fi Dilaalil Qur’an (di bawah
naungan alquran) jilid II, jakarta,gema insani press 2001.
[3] Buku: Tafsir Al-Misbah (Pesan,Pesaan dan Keserasian
Al-Quran), jakarta, lentera hati, jilid II,
tahun 2000.
[4] .Tafsir AL-AZHAR juz ke III oleh
HAMKA, penerbit;pembimbing masa –jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
that's all on my mine